ATTENTION!!!

Please respect the blog owner by not copying or quoting the blog's content without owner's permission.

You can quote any of the content, but:
1. You ask for the owner's permission (contact me here)
2. You put the direct link to this blog or to the specific post you quote.

Thank you.

Protected by Copyscape Unique Content Checker

Wednesday, May 26, 2010

Membawa Bioskop ke X-9

Ya, benar. Dengan hebatnya, murid-murid X-9 bisa membawa bioskop ke dalam kelas. Oke, sebenarnya nggak selebay itu juga sih. Pasti kalian mengerti maksud saya.

Saya tahu opening posting ini agak-agak......... aneh, begitu ya. Tapi itulah point-nya. X-9 JADI BIOSKOP DADAKAN! Dengan bermodalkan komputer, proyektor (atau LCD atau apalah namanya itu saya nggak tau), speaker, mic, DVD atau film hasil download, kami para murid X-9 bisa menikmati class theater (nama lain home theater karena dipakai di dalam kelas, LOL) sederhana ini.


Ini dia bioskop X-9! Layarnya papan tulis :)


Film langganan: HOROR!

Aaaaaa seneng banget deh nontonnya horor-horor gimana gitu, bareng-bareng lagi hehe. Walaupun ada efek sampingnya (baca selengkapnya di bawah).
Catatan: selain geek, saya juga freak ternyata.

Dengan ilmu Matematika yang cukup expert, Diva dan Assa bersama-sama menghitung film-film yang sudah kita tonton bareng-bareng di X-9. Nggak nyangka, sudah 15 film yang ditonton!
Here's the list (saya lupa urutan-urutannya, kalau nggak salah sih begini):

Monday, May 24, 2010

Cerpen: HAAH...?!!

“Kita akan liburan ke Bali!!!”
 
Allia, Zidan, dan Ibu menoleh bersamaan ke asal suara. Rupanya itu Ayah, yang sedang berdiri di ambang pintu sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan tas kantornya dibiarkan tergeletak di lantai. Mereka bertiga melongo heran melihat Ayah sudah seperti Superman siap terbang.


“Ah, Ayah. Kalau lagi capek jangan bercanda deh,” timpal Allia sambil tertawa kecil. Ia menyeruput jus jeruk yang baru saja dibuatnya.

“Siapa yang bercanda? Ayah serius! Ayo bereskan barang-barang kalian, kita ke Ba—”

“Yah, please. Jangan sebut kata B-A-L-I lagi, itu bikin aku depresi,” potong Zidan. Tangannya menopang dagu, tanda kebosanannya sudah memuncak.

“Depresi?” Ayah mengernyitkan dahinya. Depresi apa pula ini?

“Sebaiknya Ayah istirahat dulu, biar nggak ngigau lagi,” Ibu ikut tertawa kecil. Dikiranya Ayah benar-benar bercanda.

Ayah menghela napas, capek ‘dituduh’ bercanda oleh istri dan anak-anaknya. Ia segera mengeluarkan sesuatu dari tas kantornya dan menunjukkannya pada mereka. “Kalau kalian kira Ayah bercanda, lalu ini apa?”

Zidan menghampiri Ayah. Matanya tertuju pada empat lembar kertas yang dipegang Ayah. “Ah, aaaah, TIKET KE BALI! BALIII!!!”

Melihat Zidan loncat-loncat kegirangan, Allia dan Ibu langsung menyerbu Ayah.
“YEEESS!!! Ayah nggak bercanda! Kita beneran ke Bali! Bali, Bali...” Allia meniru sebuah iklan yang sering ditayangkan di televisi saking senangnya.

Kantor Ayah tengah berada di puncak keemasannya. Sebagai hadiah karena telah bekerja dengan sangat baik, atasan Ayah memberi tiket plus akomodasi selama lima hari di Bali.
Allia dan Zidan langsung mengemasi barang-barang mereka. Mereka tak sabar menunggu hari esok, karena mereka belum pernah ke Bali sebelumnya. Jangankan ke Bali... kota sebatas Bandung saja belum pernah. Ayah tidak punya waktu untuk mengajak mereka berlibur.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Allia dan Zidan berpakaian layaknya turis, lengkap dengan baju motif bunga-bunga, kacamata hitam dan topi rotan yang lebar. Ibu tidak setuju dengan pakaian mereka, karena ia merasa itu agak berlebihan. Tetapi apa mereka peduli? Mereka hanya ingin menyesuaikan pakaian dengan ciri khas Bali, agar suasana liburan lebih terasa.

“Oke, ayo kita berangkat! Jangan lupa baca doa yaa!” Ayah menjalankan mobil. Tetapi baru saja keluar dari garasi, ia segera menghentikan mobilnya. “Ah, Ayah lupa dompet! Sebentar ya, hehe...”

Ayah masuk ke rumah dan kembali dengan membawa dompetnya. “Oke, sekarang beneran baca doa yaa! Bismillahirrahmanirrahim...”

Mobil pun meninggalkan pekarangan rumah. Allia dan Zidan terlihat senang, sampai-sampai mereka berulang kali bertanya-tanya; bagaimana keadaan di Bali, seperti apa rupa orang-orang Bali, dan tentu saja rupa pantai-pantai indah di sana.

Tiba-tiba mobil berhenti lagi di depan kompleks perumahan.